- [WTA]FEAR version?... bart_the_13th
- [HELP] HALFLIFE2:EPISODE ... bart_the_13th
- wanted: weapon of fate... dated
- [Web Text Based Game] Tra... silverster
- [web based]DemoKrezy game... chonang_co
- Game PC paling berkesan m... Anything but Ordinary
Berita Lain
-
Jumat, 03/07/2009 18:27 WIB
Gay Dilegalkan, Internet jadi Ajang 'Perang' -
Jumat, 03/07/2009 17:33 WIB
Mata-matai Mantan Pacar, Teknisi IT Bobol PC -
Jumat, 03/07/2009 16:55 WIB
Napi Update Facebook Gemparkan Penjara -
Jumat, 03/07/2009 13:47 WIB
Akhirnya... Warga Iran Bisa SMS-an Lagi -
Jumat, 03/07/2009 12:51 WIB
iPhone dan BlackBerry Jadi Teman Dekat Petani -
Jumat, 03/07/2009 12:21 WIB
Tuai Protes, Microsoft Tarik 'Iklan Muntah' IE8
Indeks Berita
Rabu, 03/12/2008 15:22 WIB
WOSOC 2008
Enaknya Jadi Pengembang Software Nokia
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Ariya Hidayat (rou/inet)
Setidaknya demikian menurut Ariya Hidayat, Software Engineer Nokia yang sehari-harinya bermarkas di Oslo, Norwegia.
"Di Nokia, kami diberi kebebasan penuh untuk berekspresi," kata pria lulusan ITB dan University of Paderborn, Jerman, ini kepada detikINET di sela WOSOC 2008 di Hotel Dynasty, Bali, Rabu (3/12/2008).
Dalam kapasitasnya sebagai pemrogram open source Qt Software di Nokia, Ariya tidak pernah merasa kesukaannya akan suatu platform dibatasi perusahaannya. Bahkan, Nokia pun tak pernah mempermasalahkan kekurangsukaan pegawainya atas ponsel Nokia itu sendiri.
"Saya sehari-hari pakai iPhone meski dari kantor dapat jatah E61. Nggak masalah kok. Kantor tahu saya tidak suka sama ponsel ini," ujarnya.
Sebagai pegawai Nokia, Ariya juga terang-terangan suka dengan platform Android yang tengah dikembangkan Google. Bahkan, akunya, bos Nokia rela membelikannya ponsel G1 T-Mobile untuk sekadar jadi bahan presentasi Nokia.
"Tidak menutup kemungkinan nantinya Nokia akan kerjasama dengan Google untuk menyediakan layanan. Sebab, yang jadi nilai jual Nokia sekarang bukan cuma handset saja, tapi layanan. Misalnya, Nokia 5800 yang menggratiskan download lagu setahun penuh. Nah, value-nya dari situ. Sekarang, handset yang dijual hampir tak ada harganya lagi," papar pemilik gelar Doktor ini.
Mental Defensif
Kantor Nokia hampir mirip dengan kantor Google, mulai dari pingpong, Atari, sampai Nintendo Wii, ada. Kami juga dibebaskan soal absensi, yang penting result oriented," jelasnya.
Nah, kebiasaan kultur terbuka itulah yang kemudian membuat para pengembang software Nokia di Oslo akhirnya jadi punya kebebasan berekspresi, tak hanya terpatok pada satu platform tertentu, baik open source maupun proprietary.
Ariya sendiri sempat merasakan reverse culture shock setelah lama tak kembali ke Indonesia. Sebab, perusahaan pengembang dan software engineer lokal, menurutnya, terlalu mental defensif dan terikat pada suatu produk.
"Padahal seharusnya jangan begitu. Mental defensif harus ditinggalkan kalau mau maju," pungkas Ariya.
Liputan detikINET di ajang SITIS 2008 terselenggara dengan kerjasama dari Universitas Gunadarma.
( rou / dwn )
Jangan sampai ketinggalan info gadget terbaru dan juga informasi lainnya. Ketik REG TEC kirim SMS ke 3845 (khusus pelanggan Indosat, Telkomsel, Hutch 3, Flexi).
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga:
Klik di sini:
Informasi :
-. pemasangan webtorial dan iklan : iklan[at]detikinet.com.-. redaksional dan aktifitas offline : redaksi[at]detikinet.com

