- Original Valve Game in In... support.eclubid
- help me... suparlan
- menaikkan frame rate gam... secxentz_all
- [Web Text Based Game] Tra... silverster
- [web based]DemoKrezy game... chonang_co
- Game PC paling berkesan m... Anything but Ordinary
Berita Lain
-
Jumat, 09/01/2009 17:57 WIB
Kantor Online BRTI Sudah Bisa Dikunjungi Lagi -
Jumat, 09/01/2009 16:39 WIB
Pengguna Facebook Digoda Burger Gratis -
Jumat, 09/01/2009 14:19 WIB
Blogger dan Pengguna Internet Masih Jomplang -
Jumat, 09/01/2009 13:19 WIB
Dunia Virtual Israel Dikepung Demonstran -
Jumat, 09/01/2009 12:26 WIB
2009, Blogger Indonesia Diprediksi Tembus 1 Juta -
Jumat, 09/01/2009 10:57 WIB
Google Earth Selamatkan Gadis Korban Penculikan
Indeks Berita
Selasa, 24/06/2008 12:50 WIB
Limbah Elektronik Tebar Racun di Negara Berkembang
Fino Yurio Kristo - detikinet

Ilustrasi (ist.)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, sekitar 20 sampai 50 juta ton sampah elektronik dihasilkan per tahunnya. Parahnya, 70 persen dari limbah itu dibuang di negara-negara miskin dan berkembang.
Adapun menurut studi lembaga lingkungan Greenpeace, pada tahun 2010 akan terjadi peningkatan ratusan persen jumlah sampah elektronik di negara berkembang. Ekspor limbah mudah terjadi karena lemahnya regulasi di negara -negara itu, semisal di China, Filipina atau Vietnam.
Efeknya pun amat buruk. Para pekerja yang ingin mendapat untung dari sisa-sisa elektronik terekspos racun dari tumpukan sampah. Demikian pula dengan alam sekitar jadi tercemar mengingat banyak bahan beracun dipakai dalam pembuatan perangkat elektronik.
Kritik pun berdatangan bahwa negara maju semacam Amerika Serikat, Uni Eropa atau Kanada tidak berbuat apa-apa meski masalah terus terjadi. Mereka terus saja membuang sampah elektronik ke negara lain.
"Amerika dan Kanada tetap mengekspor sampah komputer ke negara berkembang karena dalam hukum di sana, komputer bekas dianggap bukan limbah," ungkap Ibrahim Shafii, Technical Program Officer untuk Secretariat of the Basel Convention, perjanjian lingkungan mengenai limbah elektronik.
Solusinya, regulasi sampah elektronik dunia harus diperketat. Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan soal bahaya sampah elektronik. Demikian seperti dikutip detikINET dari Govtech, Selasa (24/6/2008).
Ngobrol seru soal teknologi? Yuk, gabung di detikINET Forum! ( fyk / wsh )
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga:
Klik di sini:
Informasi :
-. pemasangan webtorial dan iklan : iklan[at]detikinet.com.-. redaksional dan aktifitas offline : redaksi[at]detikinet.com
