Berita Lain

Indeks Berita



Jumat, 24/06/2005 12:20 WIB
Industri Software Kebakaran Jenggot
Download Ilegal Makin Membumi
Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Jakarta - Seruan untuk menghentikan pembajakan (software program, game dan film - red) tidak berpengaruh sama sekali di Inggris . Berdasarkan pengamatan peneliti beberapa universitas di Inggris, men-download materi software berlisensi tidak dianggap tindak kriminal layaknya mencuri.

Kabar buruk tersebut mengguncang untuk industri software game. Kenyataannya mereka memang menderita kerugian besar. Menurut para peneliti, Dr Jo Bryce dari Universitas Central Lancashire dan Dr Jason Rutter dari Universitas Manchester, angka kerugian yang diderita industri game mencapai US$ 3,6 triliun (Rp 35,1 triliun) per tahun. Angka tersebut baru akan diungkap pada konperensi game di London minggu depan.

"Membeli bajakan atau men-download secara ilegal terlihat seperti praktik normal," papar Dr Jo Bryce, peneliti dari Universitas Central Lancashire seperti dilansir BBC News Jumat (24/6/2005).

Iklan di segala media seperti sinema, majalah dan koran, laiknya masuk kuping kiri keluar kuping kanan. "Para konsumen sebenarnya sadar akan skala kerugian, cuma mereka bersikap 'acuh tak acuh'," kata Bryce.

Dari pengamatan peneliti juga ditemukan anggapan men-download game secara ilegal tidak sama dengan mengutil CD di toko. "Orang sudah menganggap hal itu lumrah," ujar Bryce. "Mereka tidak melihat hal itu sebagai masalah besar pada tingkatan ekonomi dan sosial," tambahnya.

Banyak orang beralasan men-download game karena gratis. "Mereka tidak melihat sebagai tindak pencurian, hanya sesuatu yang tak terelakkan layaknya teknologi baru yang tersedia," jelasnya.

Merebak Pada Kawula Muda

Kawula remaja seperti di plot menjadi 'produsen' dan 'konsumen' produk bajakan. Tuntutan keadaan dan kebutuhan membuat mereka seakan berada di 'lingkaran setan'. Perihal tidak perlu membayar atau mendapatkan game yang seru dan menarik, membuat mereka bisa mengalokasikan uang untuk keperluan lain. Hal itu menjadi 'penyakit akut sosial' yang sulit disembuhkan.

"Remaja menjadi lebih taktis dalam hal pengeluaran," kata Dr Bryce. "Dari uang yang mereka sisihkan bisa dialihkan untuk membeli ponsel, nonton di bioskop atau pergi makan," tambahnya.

Tak bisa dipungkiri lagi, semua orang pasti suka sama yang namanya barang gratisan atau dengan harga yang lebih 'miring', meskipun caranya belum tentu benar. Situasi ini tak beda dengan yang terjadi di Indonesia. Pembajak dan barang bajakan ada di mana-mana. ( rou )

Baca juga:


Klik di sini:


Informasi :

-. pemasangan webtorial dan iklan : iklan[at]detikinet.com.
-. redaksional dan aktifitas offline : redaksi[at]detikinet.com